Showing posts with label Wanita Muslim. Show all posts
Showing posts with label Wanita Muslim. Show all posts

Tuesday, 4 August 2015

Ketika Wanita Muslim Memutuskan Untuk Menggunakan Hijab

Sejak memutuskan untuk berjilbab, sosok Sandrina Malakiano tak lagi membawakan berita, Ia menghilang.
Metro TV tempat ia bekerja dikecam karena melarang Sandrina Malakiano mengenakan jilbab pada saat siaran, meskipun Sandrina sudah memperjuangkannya selama berbulan-bulan dengan mengajak jajaran pimpinan level atas Metro TV berdiskusi panjang. Larangan inilah, alasan Sandrina keluar dari Metro TV.

(Curhat dari seorang Sandrina Malakiano dari Facebook-nya Sandrina Malakiano Fatah)
Setiap kali sebuah musibah datang, maka sangat boleh jadi di belakangnya sesungguhnya menguntit berkah yang belum kelihatan. Saya sendiri yakin bahwa " sebagaimana Islam mengajarkan " di balik kebaikan boleh jadi tersembunyi keburukan dan di balik keburukan boleh jadi tersembunyi kebaikan.

Saya sendiri membuktikan itu dalam kaitan dengan keputusan memakai hijab sejak pulang berhaji di awal 2006. Segera setelah keputusan itu saya buat, sesuai dugaan, ujian pertama datang dari tempat saya bekerja, Metro TV.

Sekalipun tanpa dilandasi aturan tertulis, saya tidak diperkenankan untuk siaran karena berjilbab. Pimpinan Metro TV sebetulnya sudah mengijinkan saya siaran dengan jilbab asalkan di luar studio, setelah berbulan-bulan saya memperjuangkan izinnya. Tapi, mereka yang mengelola langsung beragam tayangan di Metro TV menghambat saya di tingkat yang lebih operasional. Akhirnya, setelah enam bulan saya berjuang, bernegosiasi, dan mengajak diskusi panjang sejumlah orang dalam jajaran pimpinan level atas dan tengah di Metro TV, saya merasa pintu memang sudah ditutup.

Sementara itu, sebagai penyiar utama saya mendapatkan gaji yang tinggi. Untuk menghindari fitnah sebagai orang yang makan gaji buta, akhirnya saya memutuskan untuk cuti di luar tanggungan selama proses negosiasi berlangsung. Maka, selama enam bulan saya tak memperoleh penghasilan, tapi dengan status yang tetap terikat pada institusi Metro TV.

Setelah berlama-lama dalam posisi yang tak jelas dan tak melihat ada sinar di ujung lorong yang gelap, akhirnya saya mengundurkan diri. Pengunduran diri ini adalah sebuah keputusan besar yang mesti saya buat. Saya amat mencintai pekerjaan saya sebagai reporter dan presenter berita serta kemudian sebagai anchor di televisi. Saya sudah menggeluti pekerjaan yang amat saya cintai ini sejak di TVRI Denpasar, ANTV, sebagai freelance untuk sejumlah jaringan TV internasional, TVRI Pusat, dan kemudian Metro TV selama 15 tahun, ketika saya kehilangan pekerjaan itu. Maka, ini adalah sebuah musibah besar bagi saya.

Tetapi, dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan memberi saya yang terbaik dan bahwa dunia tak selebar daun Metro TV, saya bergeming dengan keputusan itu. Saya yakin di balik musibah itu, saya akan mendapat berkah dari-Nya.

Hikmah Berjilbab
Benar saja. Sekitar satu tahun setelah saya mundur dari Metro TV, ibu saya terkena radang pankreas akut dan mesti dirawat intensif di rumah sakit. Saya tak bisa membayangkan, jika saja saya masih aktif di Metro TV, bagaimana mungkin saya bisa mendampingi Ibu selama 47 hari di rumah sakit hingga Allah memanggilnya pulang pada 28 Mei 2007 itu. Bagaimana mungkin saya bisa menemaninya selama 28 hari di ruang rawat inap biasa, menungguinya di luar ruang operasi besar serta dua hari di ruang ICU, dan kemudian 17 hari di ruang ICCU?

Hikmah lain yang saya sungguh syukuri adalah karena berjilbab saya mendapat kesempatan untuk mempelajari Islam secara lebih baik. Kesempatan ini datang antara lain melalui beragam acara bercorak keagamaan yang saya asuh di beberapa stasiun TV. Metro TV sendiri memberi saya kesempatan sebagai tenaga kontrak untuk menjadi host dalam acara pamer cakap (talkshow) selama bulan Ramadhan.

Karena itulah, saya beroleh kesempatan untuk menjadi teman dialog para profesor di acara Ensiklopedi Al Quran selama Ramadhan tahun lalu, misalnya. Saya pun mendapatkan banyak sekali pelajaran dan pemahaman baru tentang agama dan keberagamaan. Islam tampil makin atraktif, dalam bentuknya yang tak bisa saya bayangkan sebelumnya. Saya bertemu Islam yang hanif, membebaskan, toleran, memanusiakan manusia, mengagungkan ibu dan kaum perempuan, penuh penghargaan terhadap kemajemukan, dan melindungi minoritas.

Saya sama sekali tak merasa bahwa saya sudah berislam secara baik dan mendalam. Tidak sama sekali. Berjilbab pun, perlu saya tegaskan, bukanlah sebuah proklamasi tentang kesempurnaan beragama atau tentang kesucian. Berjibab adalah upaya yang amat personal untuk memilih kenyamanan hidup.
Berjilbab adalah sebuah perangkat untuk memperbaiki diri tanpa perlu mempublikasikan segenap kebaikan itu pada orang lain. Berjilbab pada akhirnya adalah sebuah pilihan personal. Saya menghormati pilihan personal orang lain untuk tidak berjilbab atau bahkan untuk berpakaian seminim yang ia mau atas nama kenyamanan personal mereka. Tapi, karena sebab itu, wajar saja jika saya menuntut penghormatan serupa dari siapapun atas pilihan saya menggunakan jilbab.

Hikmah lainnya adalah saya menjadi tahu bahwa "fundamentalisme" bisa tumbuh di mana saja. Ia bisa tumbuh kuat di kalangan yang disebut puritan. Ia juga ternyata bisa berkembang di kalangan yang mengaku dirinya liberal dalam berislam.

Tak lama setelah berjilbab, di tengah proses bernegosiasi dengan Metro TV, saya menemani suami untuk bertemu dengan Profesor William Liddle " seseorang yang senantiasa kami perlakukan penuh hormat sebagai sahabat, mentor, bahkan kadang-kadang orang tua " di sebuah lembaga nirlaba. Di sana kami juga bertemu dengan sejumlah teman, yang dikenali publik sebagai tokoh-tokoh liberal dalam berislam.
Saya terkejut mendengar komentar-komentar mereka tentang keputusan saya berjilbab. Dengan nada sedikit melecehkan, mereka memberikan sejumlah komentar buruk, sambil seolah-olah membenarkan keputusan Metro TV untuk melarang saya siaran karena berjilbab. Salah satu komentar mereka yang masih lekat dalam ingatan saya adalah, Kamu tersesat. Semoga segera kembali ke jalan yang benar.

Saya sungguh terkejut karena sikap mereka bertentangan secara diametral dengan gagasan-gagasan yang konon mereka perjuangkan, yaitu pembebasan manusia dan penghargaan hak-hak dasar setiap orang di tengah kemajemukan.

Bagaimana mungkin mereka tak faham bahwa berjilbab adalah hak yang dimiliki oleh setiap perempuan yang memutuskan memakainya? Bagaimana mereka tak mengerti bahwa jika sebuah stasiun TV membolehkan perempuan berpakaian minim untuk tampil atas alasan hak asasi, mereka juga semestinya membolehkan seorang perempuan berjilbab untuk memperoleh hak setara? Bagaimana mungkin mereka memiliki pikiran bahwa dengan kepala yang ditutupi jilbab maka kecerdasan seorang perempuan langsung meredup dan otaknya mengkeret mengecil?

Bersama suami, saya kemudian menyimpulkan bahwa fundamentalisme "mungkin dalam bentuknya yang lebih berbahaya" ternyata bisa bersemayam di kepala orang-orang yang mengaku liberal.

Monday, 3 August 2015

Mengapa Wanita Muslim Yang Sering Shalat Lima Waktu dan Sunah Ini Masuk Neraka

Mengapa Wanita yang Sering Beribadah Ini Masuk Neraka?


Redaksi: Fauziya
MuslimahZone.com – Ada sebuah kisah di masa Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam.  Seorang pria menceritakan dari pria yang lain tentang seorang wanita di hadapan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam. Dia menceritakan tentang betapa baik ibadah wanita itu. Dia menceritakan betapa seringnya wanita itu beribadah. Dia menceritakan betapa seringnya dia berpuasa. Dia menceritakan betapa seringnya wanita itu bersedekah. Tapi kemudian Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam berkata padanya,
"Wanita yang kau ceritakan ini akan dibakar dalam neraka".

Menakjubkan !
"Ya Rasulullah, kami baru saja menceritakan betapa sering wanita ini beribadah, kami baru menceritakan betapa sering wanita ini berpuasa, kami baru menceritakan betapa sering wanita ini bersedekah, kami baru menceritakan betapa banyak kebaikan yang dilakukannya."
Dan Rasulullah shalallahu alaihi wassalam berkata, " Ya, tapi dia akan diazab di neraka, karena dia jahat kepada tetangganya."

Subhanallah ! Shalat, puasa, sedekah, semua amal baik ini, tapi saat dia jahat kepada tetangganya, hal ini sama jahatnya dengan dosa besar lainnya.

Dan kemudian di sisi lain, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam menceritakan kepadanya wanita lainnya, yang shalatnya biasa, puasanya biasa, wanita ini tidak begitu banyak shalat sunnah, dia kebanyakan shalat wajib saja, dia berpuasa Ramadhan saja, dia bersedekah biasa, dia hanya melakukan perbuatan biasa saja. Dia melakukan perbuatan umum layaknya Muslim yang biasa berkenaan dengan ibadah.  Rasulullah shalallahu alaihi wassalam berkata,

"Tapi dia akan masuk surga."
"Kenapa, ya Rasulullah?" tanya pria itu.
"Karena dia sangat baik dan sangat sopan kepada tetangganya."
Subhanallah, siapa yang memikirkan hal ini di zaman sekarang? Kita menemukan seorang Muslim, yang bagi mereka Islam hanya tentang shalat, Islam bagi mereka tentang berpuasa, Islam bagi mereka tentang zakat, Islam bagi mereka tentang baca Qur'an,. Tentu saja ini Islam, tapi belum seluruhnya Islam.

Kemudian berkenaan dengan sopan santun, berkenaan dengan moral yang baik, berkenaan dengan etika yang baik, kita lihat banyak Muslim tidak mempedulikannya. Kita tidak mempedulikan hal itu. Seakan-akan kita tidak perlu bertatakrama dengan baik, seakan-akan kita tidak perlu sopan, seakan-akan kita tidak perlu berakhlak baik,.

Allah subhanahu wata'ala memuji Rasulullah shalallahu alaihi wassalam karena akhlaknya yang paling baik. Allah subhanahu wata'ala berfirman, "Sesungguhnya Muhammad, kau memiliki akhlak dan moral terbaik."

Dengan begitu saudariku, hal paling penting dan terbaik yang harus kita miliki dalam kepribadian kita karena kita hidup dalam kontaminasi budaya Barat adalah untuk memiliki tata krama yang terbaik. Tata krama Rasulullah shalallahu alaihi wassalam yang mendekatkan orang-orang kepadanya, dan mengubah musuh-musuhnya menjadi pengikutnya. Dan membuat orang-orang yang melawannya menjadi pendukungnya, dan orang-orang yang membencinya menjadi menyukainya, dan mereka yang berpaling darinya menjadi mendekat padanya, dan mereka yang merendahkannya menjadi menghormatinya.

Itulah akhlaknya Rasulullah shalallahu alaihi wassalam, itulah moralnya, itulah etikanya. Dan kita punya kewajiban untuk memiliki akhlak terbaik. Kita punya kewajiban untuk memiliki etika terbaik.  Kita punya tanggung jawab untuk memiliki disiplin terbaik.

Akhlak yang baik adalah cerminan dari akidah yang lurus, yang benar, yang terpancar dari ketundukkan akan ke-Maha Esa-an Allah. Kesadaran bahwa Allah adalah Sang Pencipta dan kita hanyalah seorang hamba yang lemah, tanpa daya apapun kecuali atas kehendak-Nya. Wallahu'alam.