Monday, 2 May 2016

Keutamaan Shalat Jumat untuk Umat Islam.

Keutamaan Shalat Jumat untuk Umat Islam. Safar dan shalat Jum'at
Hz. Khalifatul Masih kedua bersabda :
"diantara teman-teman ada perbedaan bahwa ada fatwa Hz. Masih Mau'ud as. bahwa jika shalat-shalat dijamak maka shalat sunah awal, akhir, dan pertengahan dibebaskan. Tidak diragukan lagi bahwa ketika shalat Dzuhur atau Ashar dijamak, maka shalat sunah pertengahan dimaafkan. Atau jika shalat Maghrib dan Isya' dijamak maka shalat sunah pertengahan dan akhir dimaafkan. Tapi yang dipertentangkan adalah, seorang teman menjelaskan bahwa dalam suatu perjalanan dia beserta dengan saya. Saya mengimami dan menjamak shalat Jum'at dan Ashar, dan saya mengerjakan shalat sunah sebelum Jum'at. Kedua hal ini benar. Dalam kondisi shalat dijamak shalat sunah dimaafkan, hal ini benar. Benar juga bahwa shalat sunah sebelum Jum'at yang biasa Rasul Karim saw. kerjakan, saya mengerjakannya dalam safar tersebut. Dan sekarang juga saya mengerjakannya. Sebabnya adalah shalat-shalat nafal yang dikerjakan sebelum shalat Jum'at, sebenarnya Rasul Karim saw. mengerjakannya untuk menghormati Jum'at. Saat safar boleh mengerjakan shalat Jum'at dan boleh juga meninggalkannya. Saya telah melihat Hz. Masih Mau'ud as. Mengerjakan shalat Jum'at dalam safar juga melihat beliau meninggalkannya. Suatu kali Hz. Masih Mau'ud as. Pergi ke Gurdaspur untuk suatu persidangan. Beliau bersabda, "Hari in tidak akan diadakan shalat Jum'at sebab kita sedang safar."
Seorang sahabat yang sifatnya terus terang datang ke hadapan beliau dan berkata, "Saya mendengar tuan bersabda kalau hari ini tidak akan nada shalat Jum'at"
Hz. Khalifatul Masih awal kebetulan hari-hari iru ada di Gurdaspur. Tapi hari itu beliau pergi ke Qadian untuk suatu urusan. Sahabat tersebut berpikir bahwa mungkin beliau memberi petunjuk  bahwa shalat jumat tidak akan dilaksanakan karena Maulwi sahib (khalifah awal) tidak ada di sini. Karena itu dia berkata, "Tuan, saya bisa mengimami shalat Jum'at." Beliau bersabda, "Ya tentu kamu bisa. Tapi kita kan sedang safar." sahabat tersebut berkata, "Tuan, saya bisa menjadi imam shalat Jum'at dengan baik, dan saya juga sudah sering menjadi imam shalat Jum'at." Ketika beliau melihat bahwa sahabat tersebut sangat ingin mengimami shalat Jum'at, beliau bersabda, "Baiklah, hari ini akan diadakan shalat Jum'at." Jadi saya melihat Hz. Masih Mau'ud as. Mengerjakan shalat Jum'at dalam safar dan meninggalkannya juga. Ketika mengerjakan shalat Jum'at dalam safar, saya selalu mengerjakan shalat sunah qabliyah. Pendapat saya adalah itu hendaknya dikerjakan sebab itu berbeda dengan (sunah) yang umum. Itu adalah sebagai penghormatan kepada Jum'at. { Al-Fazl 24 Januari 1942 dan 16 Oktober 1946}
Jadi shalat Jum'at dapat dilakukan di semua tempat. Baik dalam kondisi safar maupun mukim. Untuk itu tidak perlu syarat ada kota maupun sedang mukim. Hanya satu syarat untuk diizinkan shalat Jum'at yakni keamanan dan perdamaian serta pengaturan dan penjagaan bisa dilakukan. Terdapat pengaturan yang baik untuk orang-orang yang berkumpul dan berinteraksi, supaya tidak timbul bahaya kekacauan disebabkan banyaknya orang yang berkumpul.
Tapi ada satu hal yang penting yakni shalat Jum'at hanya wajib ketika orang mukim, sehat, keadaan aman, dan orang bisa berkumpul sejumlah yang diperlukan untuk shalat Jum'at. Jika tidak, jika kondisinya sebaliknya, bisa melaksanakan shalat Dzuhur sebagai ganti shalat Jum'at.
Arti wajibnya shalat Jum'at adalah shalat Jum'at itu perlu. Dan tidak boleh shalat Dzuhur sebagai gantiya. terdapat dalam riwayat Baihaqi bahwa gubernur Bahrain menulis surat kepada Hz. Umar ra., "untuk datang ke shalat Jum'at ada syarat satu tempat tertentu, seperti kota, desa, dan lain-lain atau tidak?" atas hal itu beliau menulis kepada gubernur tersebut. "Dimanapun anda berada, di sana anda bisa mengerjakan shalat Jum'at." Yakni untuk itu tidak ada syarat safar atau mukim. Bunyi hadistnya adalah sebagai berikut :
اَنْ اِجْمَعُوْا حَيْثُ مَا كُنْتُمْ
Terjemah : berkumpullah dimanapun kalian berada. {Izalatul khafa hal. 97,  Fiqh Umar hal 84}
Begitu juga dalam Baihaqi, kitab Jum'at terdapat riwayat :
الْجُمُعَةُ وَاجِبَةٌ عَلَى كُلِّ قَرْيَةٍ وَ اِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهَا اِلَّا اَرْبَعَةً
Terjemah : Shalat Jum'at wajib atas setiap kota walaupun tidak ada di dalamnya kecuali 4 orang.
Jelaslah bahwa dengan adanya jawaban tersebut tidak ada gunanya memperdebatkan apakah batasan-batasan kota, dan apa sekelilingnya. {Sunan Al-Kubra Baihaqi hal. 179}
Petunjuk mengenai shalat Jum'at bagi pasukan yang sedang bergerak adalah; Jika tentara bersama pemimpin pasukan berkemah di suatu tempat yang termasuk wilayah hukum suatu desa atau kota dan di sana bisa dilaksanakan shalat Jum'at, maka disana hendaknya pasukan juga melaksanakan shalat Jum'at. Jika tidak, maka tidak perlu. Ibrahim Nakh'i Berkata :
كَانُوْا لَا يَجْمَعُوْنَ فِى الْاَسَاكِرِ
Terjemah : Pasukan tidak perlu berkumpul (untuk shalat Jum'at) {Aujuzul Masalik syarah Al Muwaththa imam Malik hal 352}
{Fiqih Ahmadiyah, Malik Saifur Rahman-Nazim Darul Ifta Rabwah, Hal 166-168}
PAM-Mubarak

Sunday, 1 May 2016

Bagaimana menjaga Perasaan Sesama Muslim

Bagaimana Menjaga Perasaan sesama Muslim

...Siapa Yang Kentut..? Silahkan Berdiri..!

Kisah #1

Dikisahkan, bahwa suatu hari para sahabat sedang berkumpul di masjid. Lalu terciumlah bau kentut diantara mereka, sehingga membuat para sahabat tidak tahan dengan bau tersebut, salah seorang dari mereka berdiri dan berkata,

"Barangsiapa yang kentut, silakan bangun". Hening, tak seorang pun berdiri.

Ketika datang waktu Isya mereka berkata, "Orang yang kentut pasti akan berwudhu setelah ini. Orang itulah yang kentut".

Setelah itu, para sahabat menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang keluar. Masih seperti tadi, tak seorang pun yang beranjak dari tempat duduknya, mungkin malu.

Lalu Bilal bangun untuk mengumandangkan adzan. Kemudian Nabi Muhammad berkata: "Tunggu dulu, aku belum batal, tapi aku hendak berwudhu lagi."

Lalu para sahabat pun ikut berwudhu dan tidak diketahui siapa yang kentut waktu itu.

Kisah #2

Usai shalat ashar di masjid Quba, seorang sahabat mengundang Nabi beserta jamaah untuk menikmati hidangan daging unta di rumahnya. Ketika sedang makan, ada tercium aroma tidak sedap.

Rupanya diantara yang hadir ada yang buang angin. Para sahabat saling menoleh. Wajah Nabi sedikit berubah tanda tidak nyaman.

Maka tatkala waktu shalat maghrib hampir masuk, sebelum bubar, Rasulullah berkata: "Barangsiapa yang makan daging unta, hendaklah ia berwudhu!".

Mendengar perintah Nabi tersebut maka seluruh jamaah mengambil air wudhu. Dan terhindarlah aib orang yang buang angin tadi.

Subhanallah. Sungguh, dalam diri Nabi terdapat teladan yang baik bagi kita semua.

Kisah #3

Kisah tentang menjaga perasaan saudara seiman pun juga terjadi pada seorang ulama, yaitu Syaikh Abdurrahman Hatim bin Alwan. Beliau merupakan salah satu ulama besar di Khurasan pada zamannya. Dikenal dengan Hatim Al A'sham, yang artinya Hatim si tuli.

Suatu ketika ada seorang wanita yang datang menemui beliau. Namun, tanpa sengaja ia kentut dengan suara yang cukup keras. Wanita itu salah tingkah, menahan malu. Lalu syaikh ini pura-pura tuli, dan meminta si wanita mengulangi pertanyaannya.

Dengan sikap sang syaikh, wanita itu pun merasa sedikit lega. Ia mengira sang syaikh benar-benar tuli. Lalu mereka berbicara dengan saling meninggikan suara.

Wanita itu hidup selama lima belas tahun setelah kejadian tersebut. Selama itu pula Syaikh Hatim pura-pura tuli. Hingga wanita itu meninggal, ia tak pernah tahu kepura-puraan beliau.

-----

Ketiga kisah di atas menceritakan bagaimana seharusnya seorang muslim menjaga kehormatan saudaranya. Bukan malah menertawakannya atau menyebarkan aibnya.

Abu Hurairah berkata, Nabi bersabda :

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كاَنَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ.

"... siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, Allah akan tutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah selalu menolong hamba-Nya selama hamba-Nya menolong saudaranya."

Saturday, 30 April 2016

Mengorbankan Apapun Yang Telah Direzekikan Allah SWT

MENGORBANKAN APAPUN YANG TELAH DIREZEKIKAN ALLAH

"Setelah itu tentang orang    mutaki dikatakan:

"Dan membelanjakan  dari apa yang direzekikan kepada mereka"  – Al-Baqarah:4

Di sini, bag orang mutaki digunakan kata mimmī (dari apa), sebab pada saat itu dia sedang berada di dalam kondisi buta. Oleh karena itu apa saja yang telah diberikan Tuhan kepadanya, sebagian dari antara anugerah (rezeki) itu dia berikan atas nama Tuhan.

Sebenarnya jika dia memiliki mata, tentu dia akan melihat bahwa dia tidak memiliki apa-apa, sebab segala sesuatunya hanya milik Tuhan. Ini adalah suatu tabir yang lazim terdapat  di dalam ittiqa (takwa). Keinginan kondisi ittiqa itu yang membuat orang mutaki tersebut mengeluarkan sebagian dari apa-apa yang telah diberikan Tuhan padanya.

Rasul Karim saw. pada saat menjelang wafat, beliau menanyakan kepada Hadhrat 'Aisyah, "Apakah masih ada yang tersisa dari rumah ini?" Maka diketahui bahwa ada uang satu dinar. Beliau bersabda,  "Ini sungguh jauh dari ciri¬ kehidupan seorang yang dekat dengan Tuhan, bahwa dia menyimpan segala-sesuatu pada dirinya".

Rasul Mulia saw. telah melewati derajat ittiqa dan sudah sampai pada derajat kesalihan,  karena itu tidak ada istilah  mimmā (sebagian dari) bagi beliau, sebab  orang itu   buta,  yaitu orang yang menyimpan sebagian  pada dirinya dan sebagian lagi dia berikan  kepada Tuhan.

Namun hal itu merupakan suatu kelaziman bagi orang mutaki, sebab dengan  memberikan harta di jalan Tuhan pun sudah merupakan peperangan melawan nafsu baginya. Itulah yang menyebabkan dia memberikan sebagian, sedangkan sebagian lagi dia simpan bagi dirinya. Ya, Rasul Mulia saw. telah memberikan segalla-galanya di jalan Tuhan, dan sedikit pun tidak ada yang beliau simpan untuk diri sendiri.

Sebagaimana di dalam tulisan "Dharm mahutsu"    terdapat keterangan  tentang tiga kondisi manusia yang dialami manusia dari sejak pertama hingga akhir, maka seperti itu pula di sini pun Al-Quran Karim – yang datang  untuk membawa manusia menempuh jenjang-jenjang kemajuan – telah memulai dengan ittiqa (ketakwaan).

Ini adalah sebuah jalan yang penuh usaha gigih (kerja keras). Ini adalah sebuah medan yang berbahaya. Di tangan orang mutaki terdapat pedang, dan di tangan lawan pun ada pedang. Jika dia selamat maka dia telah najāt (keselamatan), dan tidak termasuk ke dalam golongan 'Asfalus Sāfilīn' (paling rendah dari segala yang rendah).
      
Di sini tentang sifat-sifat orang mutaki tidak ada difirmankan bahwa, "Apa pun yang telah Kami berikan dia keluarkankan seluruhnya", sebab di dalam diri  orang mutaki tidak terdapat kekuatan iman seperti yang ada pada diri para nabi, sehingga – tidak seperti Pemberi petunjuk kita yang sempurna [saw.] – apa pun yang telah diberikan Tuhan kepadanya tidak semuanya diserahkan kembali kepada Tuhan.
      
Oleh karena itu pertama-tama ia hanya diwajibkan membayar pajak yang ringan, supaya setelah merasakan  kelezatan  itu dia menjadi siap untuk melakukan pengorbanan yang lebih banyak lagi.   
(Malfuzat, jld I, hlm. 31-32 / Pidato Pertama Hadhrat Masih Mau'ud a.s. pada Jalsah Salanah, 25 Desember 1897).
PAM-mubarak

Friday, 29 April 2016

Wahai Orang Yang Beriman Janganlah Mengikuti Langkah Setan

Wahai Orang Yang Beriman Janganlah Mengikuti Langkah Setan. 

Terjemah bebas Khutbah Jumat 11-03-2016 oleh Saifullah Mubarak Ahmad. Terjemah langsung ini inisiatif sendiri dan  hanya bersifat sementara, sedangkan untuk rujukan resmi akan ada terjemahan resmi dari Jemaat.

---

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ وَمَن يَتَّبِعْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ فَإِنَّهُۥ يَأْمُرُ بِٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ۚ وَلَوْلَا فَضْلُ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّى مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Yã ayyuhal ladzīna āmanū lā tattabiū khutuwātisy syaithān.... (An-Nur 24:22)

Terjemah: wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mengikuti langkah setan, sesungguhnya itu hal yang memalukan dan menjauhkan karunia Allah Taala. setan adalah musuh abadi manusia. bukan karena dia memiliki kekuatan, namun ketika penciptaan manusia dia diberi kebebasan, karena Tuhan tahu bahwa hambaNya akan selamat dari godaan setan. setan menjauhkan manusia dari kebaikan.

setan berkata kepada Tuhan bahwa dengan maksud apa Engkau menciptakan manusia, maka aku akan menghalangi mereka, kalau Engkau memberi izin maka aku akan menyesatkan mereka, namun hamba Engkau yang hakiki tidak akan bisa aku jatuhkan

namun Allah Taala mengirim nabi-nabiNya untuk menyelamatkan manusia, untuk memberi tahu jalan menuju setan, dan memberi tahu bahwa setan adalah musuh kalian yang nyata. setan merayu kalian sedemikin rupa yang menghantarkan kalian ke arah keburukan-keburukan.

setan nanti di akhirat akan berkata, memang aku merayu dan mengajak kalian menuju keburukan, namun kalian kan makhluk yang berakal, mengapa kalian mau nurut? sekarang masuklah kalian ke neraka. di ayat yang saya tilawatkan tadi bahwa setan senantiasa mengikuti manusia. melancarkan serangan-serangan kepada manusia dengan menghalanginya dari siratal mustakim.

ada orang yang mengatakan bahwa aku sudah berada di jalan yang lurus sehingga aku tidak akan pernah diserang setan. orang seperti ini sudah salah paham, orang yang beriman kepada nabi Musa dan nabi Isa  juga dulu bisa disesatkan setan. bahkan orang-orang yang menamakan nya muslim sampai bisa murtad. hanya kerunia khusus Allah Taala saja yang bisa menyelamatkan kita.

dalam kalimat terakhir ayat di atas Allah taala memberikan ketenangan kepada hambaNya bahwa Dia adalah Maha Mendengar. maka mintalah pertolongan kepadaNya, sehingga membuat Allah Taala berghairat untuk memberikan kekuatan kepada hambaNya untuk menangkis serangan-serangan setan. jadilah hamba yang murni yakni jadilah hamba yang senantiasa menjauhkan diri dari laghhau atau yang sia-sia sehingga bisa mencapai tazkiya e nafs.

dalam ayat ini kita juga dapat memahami bahwa serangan setan tidak serta merta sekaligus. namun dia pelan-pelan menyerang sehingga manusia lalai. apapun keburukan yang menyebabkan keamanan lingkungan terganggu maka itu adalah keburukan besar. apabila ingin mendapat ridho Allah Taala maka dimana kalian secara dawam berusaha meninggalkan langkah-langkah setan maka di sana kalian harus dawam minta pertolongan kepada Tuhan.

kenapa setan diciptakan? Hz Masih Mau'ud as: "dalam diri manusia ada dua tarikan. pertama tarikan ke arah keburukan dan kedua tarikan ke arah kebaikan. terkadang manusia melakukan keburukan namun tanpa rasa malu kembali ke arah kebaikan, namun terkadang manusia ketika melakukan keburukan maka dia merasa malu dan bertobat. syariat Islam menamakan potensi kebaikan dengan lamma e malaik dan petensi keburukan lamaa e setan. yang mengajak ke arah kebaikan dinamakan malaikat atau ruhul qudus dan yang mengajak ke arah kaburukan disebut setan. tujuan diciptakan keduanya supaya insan mendapatkan hak atas ganjaran amalnya, ketika manusia juga memiliki potensi untuk berbuat buruk lalu dia menghindarinya maka untuk itu dia berhak untuk mendapat ganjaran"

bagaimanapun juga kedua pengaruh ini datang dari luar,yakni malikat dan setan. orang-orang yang tidak bertobat dari berbuat buruk maka dia sendiri akan menjadi setan. kenapa Allah Taala tidak mengazab setan seperti ini? Hz Aqdas: sesuai dengan ayat ini setan seperti ini akan diazab sesuai dengan yang telah dijanjikan yakni hari yang telah ditetapkan. apakah itu di dunia ini atau di akhirat nanti. sebagian setan sudah di azab dan sebagian nanti di akhirat.

akhlah fadilah, seperti sabar, iman, ikhlas, mengajak manusia ke arah Allah Taala dan ada akhlak yang buruk. insan berada ditengah kedua-dua ini, dia bisa ditarik ke arah Allah dan bisa juga ke arah setan. setan mengajak ke arah bohong, serakah, dengki.

segala sesuatu ada tandanya. seperti seorang tabib yang mengetahui dalam tumbuh-tumbuhan ada khasiyat untuk menyembuhkan penyakit maka dia memanfaatkannya, dan ketika dia tahu bahwa dalam suatu tumbuhan tidak ada khasiyat maka dia akan membuangnya. begitu pula dalam hamba yang mengaku beriman akan dijumpai tanda-tanda bahwa dia beriman yang ditunjukan dari amalnya.

takabur mengantarkan manusia ke arah kehancuran. setan dan adam sama-sama melakukan kesalahan, namun setan takabur dan tak mau minta maaf sedangkan adam tidak takabur dan mau minta maaf sehingga adam diampuni. takabur terkadang tidak dirasakan oleh manusia.

bagaimmana setan menggelincirkan manusia? ketika manusia tidak melakukan perbuatan yang menuju dosa, namun tetap saja setan senantiaa terus berusaha menggoda. bisa saja dia tidak melakukan dosa secara zahir, namun setan dengan berbagai cara menanam benih dosa dalam diri manusia. namun apabila ada rasa takut terhadap Allah taala makan setan tidak akan bisa menanam benih dosa dalam dirinya, sehingga setan putus asa dan pergi meninggalkannya.

apabila ada rasa takut kepadaTuhan maka manusia akan terhindar dari berbagai keburukan. pencuri pun tidak akan mencuri. kebanyakan manusia tidak bisa membedakan bisikan setan dan nikmat-nikmat dari Allah Taala.

bersama manusia senantiasa ada dua kekuatan yang menempel yakni malaikat dan setan. kita tidak bisa mengingkari itu. apabila tidak ada ilmu tentang sesuatu maka tidak berarti hal itu tidak ada. (orang-orang yang mengingkari wujud malaikat karena ilmunya tidak sampai kesitu, lihat ainah kamalaat e islam).

saat ini dengan ada penemuan-penemuan baru, kemajuan teknologi sehingga menjauhkan dari Allah Taala, di dalamnya pemerintah-pemerintah pun ikut serta, berusaha menjauhkan manusia dari agama, seyogyanya ini adalah serangan setan. dulu setan tidak langsung datang di hadapan hawa, sembunyi-sembunyi datangnya. saat ini juga setan seperti itu bahwa setan sembunyi-sembunyi membisikan keburukan kepada manusia.

ada dua macam orang, pertama, ada yang menerima Islam lalu larut dalam pekerjaan-pekerjaan dan bisnis duniawi, sehingga dia berada dalam serangan setan. ini bukan berarti bisnis dilarang, para sahabat juga berbisnis , namun mereka mendahulakan agama di atas dunia sehingga setan tidak dapat menyerang mereka. jenis kedua, adalah orang-orang yang hidupnya senantiasa memikirkan agama, dan menyerahkan dirinya untuk kemajuan agama. orang-orang seperti ini ada hizbullah (kelompok/pasukan Allah). mereka tidak akan pernah diserang setan.

terkadang sebagian orang secara zahir nampak baik dan sangat soleh, namun mengapa dia mahrum dari nikmat-nikmat Allah? karena di dalam dirinya terdapat dosa tersembunyi yang lebih berbahaya dari dosa zahir. seperti penyakit yang terlihat dapat segera diobati, namun penyakit yang tidak terlihat dan pelan-pelan dari dalam menghancurkan manusia yang dampaknya lebih berbahaya dibandingkan penyakit zahir,  seperti kanker.

tazkiya e nafs (penyucian diri) sangat penting. muslim yang benar adalah orang yang menjadi penjelmaan para nabi seperti para sahabat yakni mereka larut dan fana di dalamnya. selama tidak ada keitaatan seperti itaat yang di tunjukan para sahabat maka selama itu kalian ada dalam bahaya serangan setan.

semoga Allah Ta'ala senantiasa menolong kita. semoga senantiasa kita jauh dari godaan setan aamiin. semoiga Allah Tala memberikan kita taufik untuk mengamalkannnya. Aamiin.

---

*teks dirapikan oleh tim ARH Library

Thursday, 28 April 2016

Manusia Yang Paling dicintai Allah adalah Manusia Yang Bermanfaat

Wajah Allah bukan hanya ada saat Kita   Shalat, Puasa, Bayar candah, Menghadiri Majelis Zikir,, " Tetapi Wajah Allah ada juga pada Orang-2 yg Membutuhkan Pertolongan/ Perhatian Kita..

1. Pada suatu hari Rasululah SAW ditanya oleh sahabat beliau : "Ya Rasulullah, siapakah manusia yang paling dicintai Allah dan apakah perbuatan yang paling dicintai oleh Allah ? Rasulullah SAW menjawab : "Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah manusia yang paling banyak bermanfaat dan berguna bagi manusia yang lain; sedangkan perbuatan yang paling dicintai Allah adalah memberikan kegembiraan kepada orang lain atau menghapuskan kesusahan orang lain, atau melunasi hutang orang yang tidak mampu untuk membayarnya, atau memberi makan kepada mereka yang sedang kelaparan dan jika seseorang itu berjalan untuk menolong orang yang sedang kesusahan itu lebih aku sukai daripada beri'tikaf di masjidku ini selama satu bulan " ( Hadits riwayat Thabrani ).

2. Setiap gerakan pertolongan merupakan nilai pahala " Siapa yang menolong saudaranya yang lain maka Allah akan menuliskan baginya tujuh kebaikan bagi setiap langkah yang dilakukannya " (HR. Thabrani ).

3. Memberikan bantuan juga dapat menolak bala, sebagaimana dinyatakan " Sedekah itu dapat menolak tujuh puluh pintu bala " (HR Thabrani ). Pertolongan Allah kepada seseorang juga tergantung dengan pertolongan yang dilakukannya antar manusia. "Sesungguhnya Allah akan menolong seorang hamba-Nya selama hamba itu menolong orang yang lain". (Hadits muslim, abu daud dan tirmidzi)

4. Lebih hebat lagi, membantu orang yang susah lebih baik daripada ibadah umrah, sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih berikut ini: "Siapa yang berjalan menolong orang yang susah maka Allah akan menurunkan baginya tujuh puluh lima ribu malaikat yang selalu mendoakannya dan dia akan tetap berada dalam rahmat Allah selama dia menolong orang tersebut dan jika telah selesai melakukan pertolongan tersebut, maka Allah akan tuliskan baginya pahala haji dan umrah dan sesiapa yang mengunjungi orang yang sakit maka Allah akan melindunginya dengan tujuh puluh lima ribu malaikat dan tidaklah dia mengangkat kakinya melainkan akan dituliskan Allah baginya satu kebaikan, dan tidaklah dia meletakkan tapak kakinya untuk berjalan melainkan Allah angkatkan daripadanya, Allah akan ampunkan baginya satu kesalahan dan tinggikan kedudukannya satu derajat sampai dia duduk disamping orang sakit, dan dia akan tetap mendapat rahmat sampai dia kembali ke rumahnya " (HR Thabrani ).

5. Memberikan bantuan juga dapat memadamkan kemarahan Tuhan, perhatikan hadits berikut ini: "Sesungguhnya sedekah yang sembunyi-sembunyi akan memadamkan kemarahan Allah, dan setiap perbuatan baik akan mencegah keburukan dan silaturrahmi itu akan menambah umur dan menghilangkan kefaqiran dan itu lebih baik daripada membaca laa haula wa laa quwwata illaa billah padahal dengan membacanya saja akan mendapat perbendaharaan surga dan dengan berbuat baik itu juga dapat menyembuhkan penyakit dan menghilangkan kegelisahan " (HR. Thabrani ).

6. Menolong orang lain juga dapat mengampuni dosa. "Siapa yang berjalan untuk membantu saudaranya sesama muslim maka Allah akan menuliskan baginya suatu kebaikan dari tiap langkah kakinya sampai dia pulang dari menolong orang tersebut. Jika dia telah selesai dari menolong saudaranya tersebut, maka dia telah keluar dari segala dosa-dosanya bagaikan dia dilahirkan oleh ibunya, dan jika dia ditimpa kecelakaan (akibat menolong orang tersebut) maka dia akan dimasukkan ke dalam surga tanpa hisab " (HR. Abu Ya'la ).

7. Allah SWT akan memberikan pelayanan surga kepada orang yang menolong meringankan beban hidup orang lain. Perhatikan hadits berikut ini: " Sesiapa yang bersikap ramah kepada orang lain dan meringankan beban hidupnya baik sedikit maupun banyak maka kewajiban bagi Allah untuk memberikan kepadanya.

Wednesday, 27 April 2016

Istigfar selalu Dilakukan Oleh Nabi Muhammad SAW, bagaimana dengan Kita Umatnya

Istigfar selalu Dilakukan Oleh Nabi Muhammad SAW, bagaimana dengan Kita Umatnya?

ISTIGHFAR

Nabi Muhammad SAW bersabda,
  " Barang siapa memperbanyak mohon ampunan ( Istighfar ) maka Allah SWT akan membebaskannya dari Kedukaan, memberinya jalan keluar dari kesempitan dan memberinya rezeki dari arah yg tdk diduganya " ( HR Abu Dawud ).

       " Makna hakiki istighfar adalah Berdoa memohon pertolongan kepada Allah Ta'ala agar terlepas dari setiap keburukan dan kesalahan yang berlaku disebabkan kelemahan manusiawi,  dan agar dg karunia Allah Ta'ala kelemahan itu jangan sampai nampak ke permukaan, bahkan tetap tersembunyi, kemudian arti istighfar utk manusia umumnya diperluas lagi, dan masalah ini juga termasuk didalam istighfar ; orang yg telah terlanjur berbuat kesalahan dan keburukan, Allah Ta'ala melindungi akibat buruk dan pengaruh racun kejahatannya di dunia ini dan diakhirat juga, Sumber hakekat najat ( keselamatan ) adalah kecintaan pribadi kpd Allah Ta'ala. Yang sebaliknya menarik kecintaan Allah Ta'ala melalui perangai lemah lembut manusia penyerahan diri dan Istighfar secara Dawam..

Monday, 25 April 2016

Cerita ‘Cak Nun’ dengan Imam Mesjid Ahmadiyah di Berlin Jerman

Cerita 'Cak Nun' dengan Imam Mesjid Ahmadiyah di Berlin Jerman

Pada kesempatan itu Emha dan Novia menyempatkan bertemu dengan Jemaat Ahmadiyah, berikut ini adalah penuturan Emha yang disampaikan melalui email; Selama ini terdapat kesalahpahaman dan disinformasi serius tentang 'kasus' Ahmadiyah di Indonesia. Berita-berita yang sampai ke masyarakat Ahmadiyah di sejumlah Negara menyebutkan bahwa yang terjadi di Indonesia bukan hanya aktivitas Ahmadiyah dilarang, tapi juga para pimpinan atau Imam-Imam Jemaat Ahmadiyah di Indonesia, dibunuh. Demikian menurut Emha Ainun Nadjib, sesudah perjumpaannya dengan Imam Abdel Basith Thariq (Imam Ahmadiyah di Berlin, Jerman) 24 Oktober 2008 yang lalu.
Pertemuan itu berlangsung di Masjid Khadija, markas Jemaat Ahmadiyah Qodiyan di wilayah yang dulunya terletak di Berlin Timur sebelum reunifikasi dua Jerman beberapa tahun silam. "Kecanggihan teknologi informasi tidak banyak menolong berkurangnya kemungkinan distorsi dan deviasi atau bahkan pembalikan fakta-fakta tentang sesuatu hal, terutama yang menyangkut Islam", katanya.

Jemaat Ahmadiyah dan Kaum Muslimin di Jerman mengalami berbagai 'ujian'. Berdirinya Masjid Khadija mendapat tentangan keras dari pemerintah lokal dan masyarakat setempat yang dulunya adalah rakyat DDR atau Negara sosialisme Jerman Timur yang memang tidak punya pengalaman berinteraksi dengan Ummat Islam. Tidak sedikit di antara masyarakat lokal tersebut yang bukan hanya fobi atau bahkan anti-Islam, tapi juga belum bisa menerima pergaulan dengan "orang asing" dengan Agama apapun. Akan tetapi konstitusi Negara Jerman mensyahkan berdirinya Masjid itu dan secara konsekwen aparat kepolisian menjaga keamanannya.

Pertemuan Emha dengan Imam Ahmadiyah Berlin itu untuk 'memastikan' pandangan Ahmadiyah di kota besar Eropa tentang tiga hal. Pertama, apakah Mirza Ghulam Ahmad itu Nabi atau bukan. Kedua, hujjah atau argumentasi kenabiannya. Ketiga,posisi dan fungsi kitab "Tadzkiroh".

Sejauh ini yang dimengerti oleh banyak kalangan di Indonesia, alasan kenabian Mirza Ghulan Ahmad adalah menyangkut "khataman-nabiyyin" atau penutup para Nabi. Menurut tafsir Ahmadiyah, kata "khatam" bukan bermakna "penutup" melainkan "cincin". Muhammad SAW adalah "cincin"nya para Nabi, semacam mutiara indah para Nabi. Argumentasi kedua menyangkut Hadits Nabi Muhammad SAW tentang pelaku hijrah yang terakhir, di mana Ulama Ahmadiyah berbeda pendapat dengan Ulama lain tentang salah satu kata dari kalimat Hadits itu.

Emha mengatakan Imam Ahmadiyah di Berlin itu menyatakan dengan tegas bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi. Argumentasi utamanya adalah kalau sesudah Muhammad SAW tidak ada Nabi, maka Nabi Isa tidak akan bisa turun lagi ke bumi sebagai Al-Masih atau Messiah atau Ratu Adil.

Akan tetapi dinyatakan kenabian Mirza Ghulam Ahmad sama sekali tidak mengurangi kebesaran dan keagungan Nabi Muhammad SAW. "Justru Mirza Ghulam Ahmad diperintahkan oleh Allah untuk menyebarkan keagungan dan keindahan Rasulullah Muhammad SAW", kata Emha menirukan Abdel Basith Thariq (Imam Ahmadiyah di Berlin), "Muhammad adalah Maestro, Mirza Ghulam Ahmad hanya salah seorang murid beliau, pengagum beliau, pecinta beliau, sehingga kesungguhan cintanya membuat Allah memberinya wahyu dan mengangkatnya sebagai Nabi yang bertugas menyebarkan Syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW. Kitab Tadzkiroh adalah wahyu Allah kepada Mirza Ghulam Ahmad yang dimaksudkan untuk menjunjung keindahan Al-Quran dan turut menyebarkan kebenaran dan keindahannya".

Di bagian luar maupun dalam Masjid Khadija yang didirikan oleh Jemaat Ahmadiyah itu terdapat berbagai tanda dan tulisan-tulisan sebagaimana yang terdapat pada Masjid Ummat Islam pada umumnya: kaligrafi "Allah", "Muhammad", "Syahadatain", nama-nama Khalifah Empat, Asmaul Husna, di bagian atap dalam Masjid tertulis ayat "Ala bidzikrillahi tathmainnul qulub" (Niscaya dengan mengingat Allah-lah ketenangan hati didapatkan). "Semua yang saya kemukakan ini hanya report dan tidak ada opini saya sendiri", kata Emha.